Rabu, 10 September 2008

Banjarmasin... sedikit orang Banjarnya...

Kali ini giliran saya mendampingi Pak Menteri Pendidikan Nasional dalam perjalanan safari Ramadhan ke Tarakan dan Nunukan. Supaya tidak terlalu capek -karena biasanya perjalanan dengan menteri itu seringkali terburu-buru dan padat acaranya- dan apalagi ini perjalanan pertama saya ke Kalimantan, maka saya minta Pak Maruli, pejabat Depkominfo yang ikut bersama saya, agar perjalanan diajukan sehari sebelum Pak Menteri, yaitu 10 September 2008.

Yah, ini adalah pulau besar yang selalu gagal saya kunjungi. Yang sering sih, mengintip dari balik awan, Kalimantan yang sudah porak poranda hutannya, ketika saya melakukan perjalanan ke Timur Jauh, terutama Jepang dan Korea...

Mudah-mudahan akan sering saya ke pulau kaya yang sudah mulai miskin ini. Insya Allah pekan depan saya ke Pontianak, untuk melakukan studi intensif kebutuhan akan tenaga TIK(Teknologi Informasi dan Komunikasi), agar pusat pendidikan TIK Depkominfo-UIN Syarif Hidayatullah bantuan lunak Korea Selatan itu bisa sukses berperan.

Perjalanan bulan puasa ini memang mengasyikkan. Bangun pukul 2 dini hari (hehe cuma tidur ayam 2 jam saja) dari tempat menginap saya Hotel Mercure Ancol, setelah semalam diskusi tentang masalah konvergensi infrastruktur-konten-layanan TIK bersama tim ahli dari ITS,ITB, UGM dan UI. Sempat sahur 2:30 di hotel itu- kemajuan, karena kemarinnya cuma sempat sahur roti pisang 'sadukan' pinggir jalan di Jalan Panjang, Kebun Jeruk, lalu dg taksi menuju rumah saya (enak aja mengaku rumah saya....) di sepetak kamar di Pusdiklat Depkominfo, Jalan Kelapa Dua 49D Kebun Jeruk Jkt. Sempat mandi dan menyapa sohib saya, Pak Sukemi, mantan wartawan Sby Post yang sekarang jadi Staf Khusus Menkominfo, yang juga tinggal di Pusdiklat itu.

Saya sdh ditunggu Pak Maruli di Bandara Sukarno-Hatta sejak dini hari, krn pesawat Garuda yang akan membawa saya ke Banjarmasin itu take off pk 6:20. Yah, sebagai pemegang GFF-Garuda Frequent Flyier- yang setia memang saya suka memakai airline nasional kebanggaan saya. Jadi teringat, ketika banyak teknisi Garuda yang belajar di Politeknik ELektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS, tempat saya mengabdikan diri. Saya banyak kesempatan melakukan pengembangan sistem di GMF-Garuda Maintenance Facilities yang terletak di CEngkareng, sebagai bagian dari tugas akhir mahasiswa dari Garuda tersebut, yang usianya banyak di atas saya...

9:25 WIT, pesawat dengan mulus mendarat di Banjarmasin. Segera saya cocokkan arloji saya, jadi maju satu jam. Hal kecil begini merupakan SOP-standard operating procedure- agar tidak terjadi kesalahan fatal. Pernah terjadi, saya harus tertinggal pesawat gara-gara malas mengubah arloji. "Ah tinggal ditambahkan sekian jam kan beres", guman saya. Ternyata, hal itu menjadi 'kiamat' ketika bangun tidur, otak masih belum 'penuh' (alias 'gak bek' kata orang Jawa), saya lupa bahwa jam yang tampil di arloji saya itu adalah WIB. "ah masih lama.. tidur lagi ah..." Lalu, "bablas angine"... ketika saya sadar.. dan pesawat sudah tinggal landas...

Bandara Sepinggan Balikpapan ini tidak besar dan terkesan agak lusuh, meski ditulis sebagai "Bandara Internasional". Tapi, corak ukiran khas Dayak banyak di sana sini, memberikan kesan tersendiri. Karena masih 12:55 pesawat Batavia Air ke Tarakan, maka Pak Maruli berinisiatif untuk mengajak saya jalan-jalan mengitari Banjarmasin dengan taksi. "Lumayan, masih lebih dua jam kita punya waktu", kata beliau.

Banjarmasin kotanya tidak besar, hotel baru di sana sini, plus beberapa hotel yg harus tutup karena kalah bersaing. Sopir taksi banyak cerita ttg kota ini. Rupanya dia orang Jogja, yg telah lama bermukim di Banjarmasin. Dan dia cukup berada, karena dia punya 6 hektar kelapa sawit yang sdh mulai berproduksi. "Yah, dulu rumah saya kena gusur utk Bandara Sepinggan ini, lalu saya gunakan sbg modal mengembangkan tanaman sawit", katanya. Dia pintar mengelola keuangan, nampaknya. Kan kelapa sawit itu lama berbuahnya, jadi untuk menghidupi dia sekeluarga, dia juga beli truk, selain untuk keperluan dia mengolah tanahnya, juga disewakan... Sekarang, sawit itu sdh berproduksi dan dikelola anak2nya, dia tinggal momong cucu dan jalan2 gratis dengan menjadi sopir taksi hehehe...

Banjarmasin ternyata sedikit orang Banjarnya. Suku 'asli' itu paling cuma 10 persen. Sisanya banyak orang Jawa dan Bugis. Meski demikian, walikotanya orang Banjar juga.. Hmm entah bagaimana kok bisa menang...

Saya diajak ke kompleks Pertamina, yang berdiri sejak jaman Belanda. Sejak jaman itu, bumi Balikpapan terus dieksploitasi, dikeruk keuntungannya... tak habis-habis... (sebentar lagi tentu akan habis dong..). Rumah2nya asri, dan sudah seperti itu sejak jaman Belanda, kata Pak Maruli yg juga sering ke sana. Ah saya jadi ingat Oom Kadir, saudara saya di Madura, yang merantau sudah lama dan katanya sih bekerja di sana. Sayang saya nggak punya nomer telponnya...

"Kita masih punya waktu satu jam lagi", kata Pak Maruli. Kemudian dia minta tolong supir taksi itu utk membawa ke satu tempat. "Lo Pak, ini sudah pukul 11:00", ujar saya. "Wah, iya, saya belum mengubah arloji saya, kata Pak Maruli.

Iya kan, hal remeh seperti itu, bisa jadi kiamat kalau tidak dilakukan SOP yang benar...

Catatan Perjalananku....

Dear All,

Blog ini sengaja saya buat sebagai wadah catatan perjalanan saya, yang sayang kalau tidak dicatat dan diketahui khalayak yang mungkin berguna.

Itu karena saya memiliki banyak kesempatan untuk banyak jalan-jalan, baik secara fisik mau pun mental, mengembara ke banyak daerah dan negara.. mengembara ke banyak pemikiran-pemikiran dengan sudut pandang yang berbeda...

Jadi, catatan ringan saya itu tidak punya pretensi selain melakukan pencatatan-pencatatan. Perkara kemudian ada orang yang mengambil manfaat, itu bukan karena saya, itu karena memang orang itu gemar memetik manfaat ;0) Kalau ada orang yang tersinggung ya juga jangan salahkan saya-karena saya memang tidak punya maksud itu dan saya mohon maaf sebelumnya- jangan-jangan karena pembaca terlampau sensitif, sehingga ada anjing menggonggong pun, disangkanya menghina... hehehe..

So, selamat menikmati. Doakan saya agar konsisten untuk selalu menulis, karena penyakit saya yang terbesar itu adalah kurang konsisten itu (istilah halus untuk malas dan malas... ;-) )

Salam hangat-hangat....

Son Kuswadi